
Hidup, Syukur, dan Mati
April 24, 2008Seorang Dahlan Iskan, pemimpin grup Jawa Pos, dalam suatu acara talk show Kick Andy, disodori sebuah pertanyaan. “Mengapa Anda siap mati muda?”, kata Andy F Noya, sang presenter. Dahlan Iskan, pada hari itu, diundang hadir untuk menceritakan kisah hidupnya yang fantastis. Beberapa tahun lalu, dia mengidap penyakit hepatitis B akut, dan divonis oleh pihak medis bahwa hidupnya tidak lama lagi, bahkan menurut dokter kematian dapat sewaktu-waktu menjemputnya. Namun Alhamdulillah, dia lolos dari maut, setelah melalui masa mencekam antara hidup dan mati beberapa bulan lamanya, akhirnya perjuangannya membuahkan hasil melalui serangkaian operasi transplantasi liver di China.
Kembali ke pertanyaan tadi, lantas apa jawaban Dahlan Iskan? Dia mengatakan bahwa di dalam keluarganya, banyak anggota keluarganya yang mati muda. Ibunya meninggal pada saat berusia 36 tahun, ayahnya meninggal pada saat berusia 32 tahun, salah satu saudaranya pun meninggal pada usia yang tidak terpaut jauh dengan kedua orang tuanya. Dengan kenyataan seperti itu, Dahlan Iskan berprasangka bahwa diapun kemungkinan besar ditakdirkan untuk mati muda. Entah karena penyakit turun temurun yang tidak teridentifikasi namun ada dalam silsilah keluarga atau karena sebab lainnya, yang jelas Dahlan Iskan menjadi lebih siap untuk mati di usia muda.
Wow. Aku iri.
Kesiapan untuk mati itulah yang membuatku iri. Hahaha, mungkin aku terlihat terlalu mendramatisir, atau mungkin Dahlan Iskan pun tidak selegowo itu. Namun, jujur, aku memang belum siap untuk mati. Bukan karena aku berat untuk meninggalkan urusan dunia, tetapi aku merasa bekalku terlalu sedikit untuk menyongsong akhirat. Dengan semua dosaku yang lebih banyak dibandingkan pasir di pantai, apakah pantas jika aku masuk ke dalam surga? Namun, jika memang aku belum pantas, aku pun belum ridho, aku takut, aku tak akan sanggup, jika aku harus dimasukkan ke dalam neraka. Hahaha, lantas apa maumu Rukma? Abu Nawas pun pernah gelisah seperti itu, ironis, baru kali ini aku memahami kedalaman kegelisahan itu. Ternyata aku belum cukup PD untuk mengatakan bahwa aku ridho dimasukkan kemanapun asalkan Allah ridho. Ternyata Islamku masih dalam kapasitas surga dan neraka, atau bahkan lebih buruk, sekedar KTP? Ugh, cethek.
…
Jadi, bersyukurlah.
Akhirnya aku tiba pada kesimpulan seperti itu. Karena aku masih diberikan kesempatan hidup hingga saat ini, dengan nikmat iman dan Islam, dengan kondisi jiwa raga yang layaknya manusia normal, dan masih diberikan kesempatan untuk mencari lebih banyak lagi bekal menuju akhirat, maka sudah sepatutnya aku bersyukur. Aku mencoba merubah tendensiku akan mati, dari ketakutan menjadi sebuah lecutan. Itulah yang akan kulakukan untuk menghadapi mati, hidup dengan penuh rasa syukur. Bersyukur dengan sebenar-benarnya syukur, dengan seluruh jiwa dan raga, dengan lisan dan perbuatan, dengan tenaga dan pikiran, mengabdi dan terus mengabdi, mencinta dan selamanya mencinta, kepada Allah SWT. Hingga akhirnya jika nanti aku mati, aku mati dengan khusnul khatimah, aku mati dengan menyungging senyum. Ya Allah, kabulkanlah.
Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya.
- HR. Ibnu Majah -
Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya.
- HR. Muslim dan Ibnu Majah -
P.S :
Wow, tepat hari ini usiaku berkurang lagi, setahun. Semoga Allah memberikan usia yang barokah, semoga Allah senantiasa melapangkan rizki yang halal dan mencukupkan, dan semoga Allah senantiasa memberikan ilmu yang bermanfaat. Amiin ya rabbal alamiin. Selamat ulang tahun, Rukma.
Askm,,,
Subhanallah, saya dapat pelajaran dari bacaan ni, makasih ya.