Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.
- Sayyid Quthb -
Aku menjadi termenung….

Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.
- Sayyid Quthb -
Aku menjadi termenung….

Daging kemunafikan itu masih menggumpal. Besar, namun tak terlihat. Mengajakku pada masa lalu yang hina.
Aku letih sekali.
Apakah memang aku tidak diperkenankan menjadi mulia? Dan selamanya hina? Sampai kapan aku harus tunduk mengalah kepada nafsuku? Mengabaikan akal sehat dan nurani, sampai kapan?
Ya Allah, tolonglah …

Masyarakat Jepang, dalam pandanganku, bisa dibilang merupakan kumpulan manusia-manusia yang unik. Dengan segala kemajuan teknologi yang mereka punya, mereka masih hidup dengan berpegang pada akar tradisi yang cukup kuat. Baik itu menyangkut seni, agama, upacara-upacara, hingga hal-hal takhayul. Termasuk yang akan kubahas berikut ini, yaitu jimat.
Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia pun banyak orang yang menghamba pada jimat-jimat, bahkan hingga rela memandikan dan memberi sesajen untuk jimat-jimat itu. Layaknya di Indonesia, masyarakat Jepang juga mengenal aneka ragam macam jimat. Ada jimat untuk kesuksesan melahirkan, jimat untuk ujian, jimat untuk kesuksesan karir, jimat untuk mendapat jodoh, dsb. Dari beragam macam jimat, orang Jepang juga mempercayai bahwa semanggi yang berdaun empat juga dapat membawa keberuntungan. Aku tidak begitu tahu apakah kepercayaan ini asli dari bangsa Jepang atau merupakan asimilasi dengan budaya lain, namun yang jelas aku sangat tertarik dengan semanggi daun empat itu.
Akhirnya aku memutuskan untuk mencarinya di halaman rumah. Bukan karena aku percaya bahwa semanggi berdaun empat adalah pembawa keberuntungan, namun terlebih karena seumur hidup aku belum pernah melihat ada semanggi yang berdaun empat. Semanggi yang sering kulihat selalu berdaun tiga helai, dan aku berpikir bahwa semanggi berhelai empat adalah omong kosong, seperti halnya naga atau garuda. Maka dimulailah pencarian itu, silakan saja mencibir bahwa aku kurang kerjaan, tetapi aku terlanjur tertarik dan hal itu ternyata cukup untuk membuatku melakukan pekerjaan yang sia-sia.

Ya Allah, dengan ilmu-Mu yang gaib dan kuasa-Mu atas seluruh makhluk, hidupkanlah aku jika dalam pengetahuan-Mu kehidupan itu lebih baik bagiku. dan matikanlah aku jika dalam pengetahuan-Mu kematian itu lebih baik bagiku. Ya Allah, aku memohon rasa takut kepada-Mu pada saat tersembunyi ataupun terlihat, aku memohon kepada-Mu kalimat yang benar pada saat rela ataupun marah. Aku memohon kepada-Mu sifat hemat pada waktu fakir maupun kaya. Aku memohon kepada-Mu nikmat yang tak habis-habis, aku memohon kepada-Mu kesenangan hati yang tak pernah putus. Aku memohon kepada-Mu kerelaan setelah adanya ketetapan (qadha’). Aku memohon kepada-Mu sejuknya kehidupan setelah mati. Dan aku memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu serta rasa rindu untuk bertemu dengan-Mu, tidak dalam kesulitan yang menyengsarakan dan tidak pula dalam fitnah yang menyesatkan…Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan keimanan dan jadikanlah kami sebagai pemberi petunjuk bagi orang-orang yang mendapat petunjuk…
Sungguh, aku tidak pernah mendengar doa seindah doa Rasulullah ini. Begitu menyentuh, merendah dihadapan-Nya.
Selanjutnya, aku akan membuat halaman khusus mengenai puisi-puisi indah Rasulullah yang lain.

Maraknya kemunculan aliran sesat beberapa tahun terakhir, tampaknya menunjukkan tanda bahwa ada yang salah dengan pendidikan agama khususnya aqidah Islam di Indonesia.
Hal itu bukan tanpa alasan, aku mencoba merunut kembali masa-masa ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), sedikit sekali bab dalam mata pelajaran agama Islam yang membahas mengenai aqidah Islam. Kita memang belajar “mengucapkan” syahadat, diajarkan Rukun Iman, dan diajarkan mengenal sifat-sifat Allah, namun hal itu sangat timpang sekali jika dibandingkan dengan proporsi yang dipergunakan untuk mempelajari sisi historis peradaban Islam, bagaimana cara beribadah, serta ilmu fiqih seperti thaharah, sholat, puasa, zakat, haji, dsb.
Akibatnya, kita memang melaksanakan sholat tetapi sholat yang lalai, bermalas-malasan dan tidak mencegah kita dari berbuat kemunkaran, kita memang berpuasa namun sekedar menahan lapar dan haus, kita berzakat namun tidak lillaahita’ala. Seseorang pernah berkata kepadaku, bahwa jika sholat adalah tiang agama, maka aqidah adalah pondasinya, dan jihad adalah atapnya. Jika struktur pondasi bangunan tidak kokoh, runtuhlah bangunan tersebut.
Sedemikian pentingnya bagi kita untuk memperkuat aqidah dan keimanan sehingga sejak terlahir ke dunia kita telah diperdengarkan dua kalimat syahadat melalui adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri kita. Bukan pula tanpa alasan jika syahadatain diletakkan dalam urutan pertama Rukun Islam. Kesemuanya menunjukkan bahwa pada dasarnya segala sesuatu perbuatan kita haruslah berlandaskan atas keimanan kita akan Allah dan Muhammad sebagai Rasulullah, bahwa perbuatan kita ditujukan untuk mengabdi kepada Allah dan menjunjung sunnah-sunnah Rasulullah Muhammad SAW.
Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.
- QS. Ali ‘Imran : 51 -

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
- QS. An Nisaa’ : 23 -
Aku membaca ayat itu tadi siang. Dan lagi-lagi, benakku kembali terhanyut dalam buaian masa silam.
Saat masih bersekolah di SMP, aku mempunyai seorang teman yang dikaruniai Allah kecerdasan dan kecemerlangan pikiran. Dia kritis, jenaka, walaupun kadang suka berlebih-lebihan tetapi dia adalah teman setia.
Seusai membahas masalah muhrim di pelajaran agama Islam, dia memasang muka serius lalu menghampiriku saat jam istirahat.

Aku menunggu waktu berbuka puasa dengan melamun. Sedetik, dua detik, tiga detik, waktu berlalu dengan cepat, dan sia-sia.
Angin sepoi-sepoi membuaiku, menerbangkanku sejenak ke masa lalu.
Kulihat sesosok anak kecil, memakai piyama, berlari-lari kecil. Menapakkan kaki dengan gembira, sedikit tergesa-gesa. Aku memutuskan mengikuti jejaknya.
Aaah, ternyata ke mushola. Aku pun menunggu hingga sholatnya usai. Kegembiraannya membuatku sedikit tertarik untuk sejenak menemaninya. Namun ternyata dia pulang beramai-ramai, bercanda dengan teman sebayanya.
Tiba-tiba seorang temannya bertanya, “Kenapa sih kita tergesa-gesa ke masjid ? Untuk apa sholat tepat waktu ?”
Si pemakai piyama mencoba beranalog. Katanya, “Ketika Pak Guru memanggil dan mengabsen kamu, apa kamu langsung menyahut : HADIR! ?”
Temannya itu menjawab, “Tentu saja, bisa dikira bolos aku nanti jika tidak segera mengacungkan jari”
Si piyama melanjutkan, “Bukankah ketika seseorang diperintah menghadap Presiden, dia harus memenuhi panggilan itu sesegera mungkin?
Temannya menjawab lagi, “Jelas, bisa dipenjara nanti!”
Aku tersenyum geli. Apakah memang ada seseorang yang dipenjara karena tidak memenuhi panggilan Presiden ?
“Bagaimana jika yang memanggil adalah Presiden dari segala Presiden ? Bagaimana jika yang memanggil adalah Penguasa alam semesta raya ini ? Bagaimana jika yang memanggil adalah Allah ?”, si piyama bertanya beruntun.
Semuanya hanya mengangguk-anggukkan kepala mereka, tidak mendapatkan jawaban pasti tetapi memahami makna analogi itu. Tidak ada yang mencoba menyangkal.
Dan aku, aku terdiam mematung disana. Betapa merindunya aku pada sosokku di masa lalu itu. Betapa aku yang dulu bisa mengatakan hal-hal tersebut dengan ringan dan polos, kini adalah seorang yang semakin jarang menyebut asma-Nya. Betapa munafiknya aku saat ini.
Aku malu.

Ada tiga orang buta. Satu orang mengatakan bahwa gajah ternyata sangat panjang, seperti ular. Sedangkan orang buta yang lain berkata bahwa gajah itu bukan seperti ular tetapi seperti ikan pari, pipih dan lebar. Dan orang buta yang ketiga, tidak mau kalah, berkata bahwa gajah itu seperti tabung air, agak lebar dan bulat. Mana deskripsi yang benar?
Semuanya nyata-nyata hanya memberikan persepsi. Mereka tidak keliru, tetapi juga belum bisa dikatakan benar. Untuk mendeskripsikan gajah, tentu saja, haruslah secara menyeluruh, bukan hanya dari belalai, telinga, atau kakinya. Hal yang demikian bukanlah ilmu, itu hanya persepsi.
Ilmu, sekali lagi, bukanlah sekedar persepsi. Ilmu memang diawali dari persepsi, namun ilmu adalah keseluruhan fakta dan kebenaran.
Lantas, bagaimana dengan Islam-mu kawan?
Apakah dia sekedar persepsi ? Apakah Islam-mu sudah benar ? Atau sudahkah engkau mempelajarinya secara menyeluruh, memasukinya secara kaffah ?
Aku belum.
Masih banyak yang harus kupelajari. Masih banyak pula yang harus diamalkan. Sungguh waktuku telah terbuang selama ini. Semoga di sisa kehidupan kita ini, Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki Islam kita. Semoga, bukan hanya sekedar Islam persepsi.
Kawan, selamat bergabung dalam kamp Ramadhan 1428 H.

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
- QS. Al Fatihah : 6-7 -
Segala puji adalah untuk Allah. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Salam, namaku Pratista. Nama itu berarti “lurus” atau bolehlah diartikan sebagai “haq” atau “benar”. Semoga blog ini pun demikian adanya, mewujudkan asa dalam nama, mampu menorehkan garis yang lurus. Blog ini hanyalah media, sebuah perkamen perjalananku. Disinilah ku berbagi ilmu, melakukan refleksi, menegakkan kebenaran, dan mencoba sedikit melaksanakan tugasku sebagai hamba Allah.
Blog ini jelas-jelas buatan manusia biasa. Aku bukan seorang rabbani, walaupun sangat ingin menjadi salah satu dari mereka. Jikapun ada yang benar dalam blog ini, semuanya adalah bersumber dari Allah. Dan jika pula ada yang keliru, atau menyimpang, maka kuharap luruskanlah, semoga Allah membalas anda dengan kasih-Nya.
May Allah humble us all to make this effort pure, seeking His Face alone. Certainly to Him is our return. Semoga Allah menjadikan niat ini murni untuk mencari ampunan dan keridhoan-Nya. Sesungguhnya kepada-Nya semua akan kembali.